PUASA
A. Pengertian puasa
Puasa rukun islam yang ketiga yang wajib kita lakukan selagi kita bisa dalam artian bisa adalah kita tidak sakit mau pun tidak dalam keadaan Hadats Besar ( Haid,junub,dll). Puasa sendiri dapan di definisikan Secara bahasa, puasa atau shaum dalam bahasa Arabnya berarti menahan diri dari segala sesuatu. Jadi, puasa itu ialah menahan diri dari segala perkara seperti makanan, minuman, berbicara, menahan nafsu dan syahwat, dls. Sedangkan secara istilah, puasa yaitu menahan diri dari segala sesuatu yang bisa membatalkan puasa yang dimulai sejak terbit fajar hingga matahari terbenam.
ebagaimana firman ALLAH SWT :
Artinya
Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri'tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa. al-baqarah/ayat-187
B. Macam macam puasa
Ada beberapa puasa yang di goongkan menjadi empat golongan yaitu :
1. Puasa wajib yang terdiri dari : puasa ramadhan, nadzar dan kafarat.
2. Puasa sunnah yang terdiri dari : puasa senin kamis, muharam, syawal, arofah dls.
3.Puasa makruh yang terdiri dari puasa yang dikhususkan pada hari jumat dan sabtu.
4.Puasa haram yang terdiri dari puasa hari raya idul fitri dan hari raya idul adha serta puasa sepanjang tahu.
PUASA WAJIB
Puasa ramadhan. Yakni puasa sebulan penuh dibulan ramdhan yang hukumnya wajib bagi setiap umat muslim yang sudah baligh. Kewajiban melaksanakan puasa dibulan ramadhan. terdapat dalam Qur’an :
Artinya
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa” (QS. Al Baqarah: 183
Maka wajib bagi seorang muslim mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan ibadah puasa, seperti syarat wajib puasa, syarat syahnya puasa, rukun puasa, pembatal-pembatal puasa, dan lainnya. Dan pada edisi ini, kami akan membahas mengenai syarat, rukun, dan pembatal Puasa.
uasa nadzar. Merupakan puasa yang disebabkan karena sebuah janji, nadzar secara bahasa adalah janji. Sehingga puasa yang dinadzarkan hukumnya wajib.
Puasa kafarat atau kifarat. Yakni puasa yang dilakukan untuk menggantikan dam atau denda atas pelanggaran yang hukumnya wajib. Puasa ini ditunaikan dikarenakan perbuatan dosa, sehingga bertujuan untuk menghapus dosa yang telah dilakukan. Adapun macam-macam puasa kafarat antara lain : kafarat karena melanggar sumpah atas nama Allah, kafarat dalam melakukan ibadah haji, kafarat karena berjima’ atau berhubungan badan suami istri di bulan ramadhan, membunuh tanpa sengaja, membunuh binatang saat sedang ihram.
Puasa Sunnah
Puasa sunnah senin kamis. Rasulullah telah memerintah umatnya untuk senantiasa berpuasa di hari senin dan kamis, karena pada hari senin merupakan hari kelahiran beliau dan kamis adalah hari pertama kali Al-Qur’an diturunkan. Dan pada hari senin kamis juga, amal perbuatan manusia diperiksa, sehingga beliau menginginkan ketka diperiksa, beliau dalam keadaan berpuasa.
Puasa sunnah syawal. Puasa enam hari dibulan syawal atau setelah bulan ramadhan. Bisa dilakukan secara berurutan dimulai dari hari kedua syawal atau dilakukan secara tidak berurutan. Rasulullah bersabda yang artinya: “Keutamaan puasa ramadhan yang diiringi dengan puasa syawal ialah seperti orang yang berpuasa selama setahun (HR. Muslim).
Puasa muharrom. Yakni puasa pada bulan Muharram dan yang paling utama ialah pada hari ke 10 bulan muharram yakni assyuro’. Puasa ini memiliki keutamaan dan yang paling utama setelah puasa ramadhan.
Puasa arofah. Yakni puasa pada hari ke-9 Dzuhijjah, dimana keistimewaannya ialah akan dihapuskan dosa-dosa pada tahun lalu & dosa-dosa di tahun yang akan datang (HR. Muslim). Dosa-dosa yang dimaksud ialah khusus untuk dosa-dosa kecil, karena dosa-dosa besar hanya bisa diampuni dengan jalan bertaubat atau taubatan nasuha.
Puasa di bulan Sya’ban. Pada bulan sya’ban ini, segala amal akan diangkat kepada Rabb sehingga diperintahkan untuk memperbanyak puasa.
Puasa daud. Yakni puasa yang dilakukan nabi daud dan caranya yaitu sehari puasa dan sehari tidak atau dengan cara selalng seling dan puasa ini sangat disukai Allah SWT.
Puasa Makruh
Jika melakukan puasa pada hari jumat atau sabtu, dengan niat dikhususkan atau disengaja maka hukumnya makruh kecuali bermaksud atau berniat mengqodho puasa ramadhan, puasa karena nadzar ataupun kifarat.
Puasa Haram
Hari Raya Idul Fitri. Yang jatuh pada tanggal 1 Syawal yang ditetapkan sebagai hari raya umat muslim. Pada hari ini, puasa diharamkan karena hari ini merupakan hari kemenangan karena telah berpuasa sebulan penuh dibulan ramadhan.
Hari Raya Idul Adha. Pada tanggal 10 Dzulhijjah merupakan hari raya qurban dan hari raya kedua bagi umat muslim. Berpuasa pada hari ini diharamkan.
Hari Tasyrik. Jatuh pada tanggal 11, 12 & 13 Dzulhijjah.
Puasa setiap hari atau sepanjang tahun dan selamanya.
C. Manfaat dai puasa
Ada beberapah manfaat dari puasa yang sangat berguna terhadap kesehatan tubuh kita yaitu sebagai berikut :
Meningkatkan detoksifikasi
Makanan-makanan olahan banyak mengandung aditif zat kimia, yang bisa menjadi racun dalam tubuh. Sebagian besar dari zat racun ini tersimpan dalam lemak tubuh, dan lemak ini akan dibakar selama kita berpuasa secara berkelanjutan. Dengan demikian, racun-racun tersebut secara otomatis juga ikut dilepaskan keluar dari tubuh. Sementara itu organ hati, ginjal dan organ lain dalam tubuh juga melakukan proses detoksifikasi.
Menyehatkan sistem Sistem pencernaan
Selama kita berpuasa, maka organ-organ pencernaan akan beristirahat. Fungsi fisiologis pencernaan tetap berjalan normal terutama produksi sekresi pencernaan, akan tetapi dengan jumlah yang berkurang yang membantu menjaga keseimbangan cairan dalam tubuh. Pemecahan makanan juga terjadi pada tingkat yang stabil, dan pelepasan energi juga mengikuti pola yang bertahap. Sebagai akibat dari diet yang salah, sebagian besar dari kita saat ini banyak yang menderita berbagai macam penyakit gastrointestinal. Yang paling umum adalah seperti sembelit, kembung, dan gastritis. Puasa bisa memberikan penyembuhan untuk penyakit-penyakit ini. Saat kita berpuasa, sistem pencernaan akan memperoleh waktu untuk merevitalisasi dan meningkatkan fungsinya. Jadi setelah berbuka puasa, sistem pencernaan menjadi lebih efisien dan lebih kecil kemungkinannya untuk mengembangkan suatu penyakit.
Mengatasi masalah peradangan
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa puasa mempromosikan penyembuhan penyakit peradangan dan alergi. Contoh dari penyakit peradangan adalah seperti rematik atau rheumatoid arthritis, dan penyakit kulit seperti psoriasis. Beberapa ahli juga menyatakan bahwa puasa bisa meningkatkan penyembuhan penyakit radang usus seperti kolitis ulserativa.
Mengurangi kadar Gula Darah
Selama berpuasa tubuh kita meningkatkan pemecahan glukosa, yang dilakukan agar tubuh bisa memperoleh energi. Hal ini akan mengurangi produksi insulin yang terletak pankreas, dan glukagon diproduksi untuk memfasilitasi pemecahan glukosa. Dengan demikian puasa berarti bisa mengurangi gula darah.
Meningkatkan pembakaran lemak
Respon pertama oleh tubuh terhadap puasa adalah memecah glukosa. Ketika persediaan glukosa sudah habis, maka ketosis dimulai yaitu memecah lemak untuk melepaskan energi. Lemak yang disimpan dalam ginjal dan otot juga akan dipecah untuk menghasilkan energi.
Mengurangi hipertensi
Puasa juga bermanfaat untuk mengurangi tekanan darah pada penderita hipertensi tanpa menggunakan obat. Puasa membantu mengurangi risiko aterosklerosis, yaitu tersumbatnya arteri oleh partikel lemak yang menyebabkan darah tinggi. Selama puasa, simpanan glukosa dan lemak digunakan untuk menghasilkan energi, tingkat metabolik tubuh berkurang, hormon seperti adrenalin dan noradrenalin juga berkurang. Dengan demikian hal ini akan membuat metabolisme tubuh kita dalam batas yang stabil, sehingga dampak akhirnya adalah penurunan tekanan darah.
Membantu menjaga Berat badan
Puasa bisa membantu menurunkan berat badan dengan lebih cepat, karena akan mengurangi timbunan lemak dalam tubuh. Namun puasa tidak bisa dijadikan sebagai strategi untuk menurunkan berat badan yang baik. Menjaga berat badan yang seimbang, adalah langkah awal yang baik untuk bisa hidup yang sehat berkualitas.
Meningkatkan kebiasaan diet yang sehat
Puasa akan mengurangi keinginan kita untuk makan atau ngemil makanan olahan, namun lebih mendorong keinginan kita untuk makan-makanan alami, terutama air, dan buah-buahan. Ini adalah salah satu cara yang baik untuk mempromosikan gaya hidup yang sehat.
Meningkatkan kekebalan tubuh
Ketika seseorang menjalankan diet yang seimbang di antara waktu puasa, maka mereka akan mendapatkan peningkatan kekebalan tubuh. Hal ini karena terjadi pelepasan racun dan pengurangan timbunan lemak dalam tubuh selama puasa. Kecenderungan orang yang berbuka puasa adalah makanan alami yang segar seperti buah-buahan yang mengandung air, maka hal ini akan meningkatkan asupan vitamin dan mineral. Buah-buahan merupakan sumber zat antioksidan yang baik, yang bermanfaat untuk membantu untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh.
Membantu Mengatasi masalah Kecand*an
Puasa bisa membantu seseorang untuk mengurangi keinginan merok*ok, alk*hol, kafein, dan hal-hal lain yang berhubungan dengan kecand*an. Meskipun ada hal lain yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah kecand*an, puasa bisa berperan baik untuk masalah ini.
D. Syarat syarat dan rukun puasa
Syarat Wajib Puasa
Syarat dalam istilah Fiqih adalah suatu yang harus ditepati sebelum mengerjakan sesuatu.
Maka syarat wajibnya puasa yaitu :
1.Beragama Islam
2.Berakal sehat
3.Baligh (sudah cukup umur
4.Mampu melaksanakannya
Syarat Sah Puasa
Syarat sahnya puasa ada 4, yaitu
1.Islam (tidak murtad)
2.Mumayyiz (dapat membedakan yang baik dan yang buruk)
3.Suci dari haid dan nifas (khusus bagi wanita)
4.Mengetahui waktu diterimanya puasa
Syarat Sah Puasa
Yang dimaksud syarat wajib penunaian puasa adalah ketika ia mendapati waktu tertentu, maka ia dikenakan kewajiban puasa. Syarat yang dimaksud adalah sebagai berikut. (1) Sehat, tidak dalam keadaan sakit. (2) Menetap, tidak dalam keadaan bersafar (bepergian). Allah ta’ala berfirman
(yang artinya),
“Dan barangsiapa yang dalam keadaan sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.” (QS. Al Baqarah: 185).
Kedua syarat ini termasuk dalam syarat wajib penunaian puasa dan bukan syarat sahnya puasa dan bukan syarat wajibnya qodho’ puasa. Karena syarat wajib penunaian puasa di sini gugur pada orang yang sakit dan orang yang bersafar. Ketika mereka tidak berpuasa saat itu, barulah mereka qodho’ berdasarkan kesepakatan para ulama. Namun jika mereka tetap berpuasa dalam keadaan demikian, puasa mereka tetap sah.
(3) Suci dari haidh dan nifas. Dari Mu’adzah dia berkata, “Saya bertanya kepada Aisyah seraya berkata, ‘Kenapa gerangan wanita yang haid mengqadha’ puasa dan tidak mengqadha’ shalat?’ Maka Aisyah menjawab, ‘Apakah kamu dari golongan Haruriyah? ‘ Aku menjawab, ‘Aku bukan Haruriyah, akan tetapi aku hanya bertanya.’ Dia menjawab, ‘Kami dahulu juga mengalami haid, maka kami diperintahkan untuk mengqadha’ puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqadha’ shalat’.” (HR. Muslim). Berdasarkan kesepakatan para ulama pula, wanita yang dalam keadaan haidh dan nifas tidak wajib puasa dan wajib mengqodho’ (mengganti di hari lain) puasanya.
Rukun ruku Puasa
• Niat puasa.
• Menahan diri dari perkara yang membatalkannya, bermula dari terbit fajar hingga tenggelam matahari
Hal hal yang membatalkan puasa
Beberapa perkara atau hal yang membatalkan puasa dan pahalanya dan berlaku untuk semua puasa baik wajib seperti di bulan ramadhan maupun sunnah, oleh karenanya dalam melaksanakan ibadah puasa perlu sikap hati-hati agar terhindar dari segala hal atau perkara yang dapat membatalkan maupun hal yang dapat mengurangi kesempurnaan nilai ibadah yang dijalankan sehingga bisa mendapat pahala yang berlimpah terlebih di bulan ramadhan, bulan yang penuh rahmah dan ampunan
1.Makan Dan Minum Disengaja
Memasukan benda baik berupa makanan atau minuman atau benda lain kedalam mulut atau salah satu dari lubang lain dalam anggota tubuh secara sengaja yang menyebabkan makanan atau benda tersebut masuk kedalam perut (lambung) tidak termasuk jika tidak disengaja
2.Jima’
Melakukan jima’ siang hari dengan sengaja baik dengan istri atau suami termasuk dengan siapapun baik keluar mani atau tidak maka puasanya batal
Bagi mereka yang berniat puasa pada malam harinya lalu pada siang harinya melakukan hal itu maka diwajibkan
•Meng-qadha (mengganti) dan membayar kafarat dengan memerdekakan budak sebagai hukuman yang setara, jika tidak mampu
•Mengganti puasa diluar bulan ramadhan selama 2 bulan berturut-turut, jika tidak mampu
•Membayar fidyah untuk 60 orang fakir miskin, jika tidak mampu
•Tetap menjadi tanggungan dan wajib membayar setelah mampu
3.Mengeluarkan Mani Dengan Sengaja
Mengeluarkan dengan sengaja misalnya dipelintir-pelintir, berhayal yang disengaja sampai keluar sperma dapat membatalkan puasa, tidak termasuk jika bermimpi
4.Muntah Disengaja
Muntah disengaja seperti memasukan jari kedalam kerongkongan agar muntah, tapi tidak termasuk muntah karena sakit atau mabuk perjalanan
5.Haid Dan Nifas
Bag wanita yang sedang haid atau nifas (melahirkan) tidak diperbolehkan puasa sampai sampai bersih dari haidnya
6.Memasukkan Jarum suntik
Masukan suatu hal dalam tubuh melalui jarum suntik yang bertujuan untuk mengenyangkan, biasa membatalkan puasa, namun ada beda pendapat tentang hal hani.
7.Gila (hilang akal)
Orang yang mengalami kegilaan tidak diwajibkan berpuasa, jika sedang berpuasa lalu tiba-tiba mengalami gila puasanya batal
8.Memasukan Benda melalui Kubul dan Dhubur
Sengaja memasukan benda padat atau cair melalui kedua lubang (dubur atau qubul) dapat membatalkan puasa, sebaiknya hindari buang angin didalam air yang bisa menyebabkan air masuk
9.Menghisab asap rokok Dengan Sengaja
Saat melaksanakan puasa lalu merokok maka batal puasanya, karena asab rokok termasuk benda (ain) yang bisa masuk kedalam lambung keculi mencium wangi-wangian
F. Hal Yang Tidak Membatalkan Puasa
1.Menelan ludah sendiri
2.Berkumur saat sedang puasa (perlu berhati-hati)
3.Sikat Gigi tengah hari (makruh)
4.Mencium aroma masakan
5.Keluar darah dari luka tidak sengaja kecuali menimbulkan rasa pusing dan lemas
6.Muntah tidak dengan disengaja seperti sakit, mabuk perjalanan
7.Keluar sperma tanpa sengaja seperti mimpi
8.Pingsan jika sempat sadar disiang hari
G.Hal Yang Membatalkan Pahala Puasa
1.Mengucapkan kata-kata dusta atau bohong
2.Menggunjing (membicarakan kejelekan orang lain), adu domba dsb
3.Memberi kesaksian tidak benar (palsu)
4.Mengucapkan kata-kata kotor atau keji, sumpah serapah, ungkapan kotor akibat marah
5.Mengucapkan kata-kata yang tidak membwa manfaat
6.Ucapan lantang (teriakan), adu mulut dalam pertikaian
7.Berbuat hasud (dengki) yang dapat merugikan orang lain
8.Melihat perempuan lalu timbul nafsu
9.Mencium perempuan bukan muhrimnya
10.Melakukan pencurian dan sebagainya
Mungkin dalam penjelasan diatas ada banyak kekurangan atau mungkin ada berbeda pendapat dengan berbagai alasan dan dalil yang menguatkan, untuk hal itu anda bisa menambahkan melalui kotak komentar , Semoga bermanfaat
Monday, May 9, 2016
penjelasan rukun islam dan rukun iman
PENJELASANNYA DARI RUKUN ISLAM DAN
IMAN
Segala
sesuatunya mempunyai rukun atau hal pokok yang telah mendasari hal tersebut.
Begitupun juga dengan persoalan keimanan, maka itu juga mempunyai pokok-pokok
yang sudah menjadi asas dari bagian-bagiannya. Seperti yang telah kita ketahui
bahwa untuk rukun iman tersebut ada 6 (enam) yakni: Iman kepada Allah, iman
kepada malaikat, iman kepada kitab-kitabNya, Iman kepada para Rasul, Iman
kepada hari Akhir dan Iman kepada Takdir.
Adapun
dalilnya dari firman Allah Swt:
Artinya :
“Bukannlah menghaddapkan wajahhmu ke arah timur dan barrat itu suatu
kebajjikan, akan tettapi sesungguhnya kebbajikan itu ialah beriiman kepada
Allah, hari kemuddian, malaikat-malaikat, kittab-kittab, nabbi-nabi ..” (QS Al
Baqarah: 177).
Begitupun
dikuatkan dengan Hadits Rasullullah Saw yang bersabda didalam sebuah hadist
ketika menjawab sebuah pertanyaan dari Malaikat Jibril As mengenai keimanan
bahwa keimanan adalah engkau yang beriman kepada Allah, dan parra MalaikattNya,
dan Kittab-kitabNya, dan Parra RasulNya, dan Hari Akhir, dan engkau yang
beriman kepada takkdir baik yang baikk maupun yang burruk (HR Muslim darri
Sahabat ‘Umar Ra’)
6 Rukun Iman dan 5 Rukun Islam serta Penjelasannya
Pengertian Rukun Iman
Sebelum kita masuk membahas setiap poin rukun iman maka ada baiknya kita mengartikan terlebih dahulu seperti apa pengertian rukun iman. Kata “Rukun” yang terdapat dalam rukun iman merupakan landasan, dasar atau asas. Berarti ada 6 hal yang disebutkan pada rukun iman ialah landasan dan dasar utama didalam beragama. Tanpa adanya keenam hal tersebut maka kita masih belum sempurna dalam beragama islam. Mengapa demikian? Dikarenakan semua rukun islam ini saling berhubung. Kalau kita mempercayai kepada Allah maka kita wajib untuk mempercayai rasul dan begitupun sebaliknya. Seperti yang telah difirmankan oleh Allah didalam surat Annisa pada ayat ke 59 yaitu:” Atiullha Wa’Ati’urrosuula..” yang memiliki arti bahwa “ikutillah Allah dan ikuttilah Rasul..” . Pada ayat itu bisa kita mengambil maknanya bahwa kita tidak dapat mempercayai salah satunya, semisal hanya sekedar mempercayai Allah saja, akan tetapi tak mempercayai rasulnya ataupun sebaliknya. Sehingga kesimpulannya ialah kalau kita mengaku beriman untuk Allah maka imanilah atau percaya juga rasulnya dan ikutilah pada setiap perintahnya, serta beriman juga pada setiap rukun yang terdapat dalam rukun iman supaya Islam kita bisa sempurna.
Kata “Iman”
dalam bahasa ialah membenarkan atau percaya. Sedangkan untuk kata “iman” dalam
istilah syar’i yakni keyakinan didalam hati, perkataan yang ada di lisan,
amalan dengan anggota badan, bertambah dengan menjalankan ketaatan dan
berkurang dengan maksiat.
Kalau kita
menghubungkan keduanya maka arti dari rukun iman ialah landasan atau
dasar-dasar yang mesti kita yakini dalam hati pada setiap muslim dan bisa
dibuktikan dalam lisan serta perbuatannya dalams sehari-hari.
Adapun
penjelasan mengenai rukun islam yakni sebagai berikut:
1. Rukun
Iman kepada Allah
Tidaklah ada
seseorang mengatakan beriman kepada Allah sampai dia mengimani 4 perkara yakni:
– Mengimani bahwa adanya Allah Swt
– Mengimani rububiah Allah, bahwa tidak ada lagi yang menguasai, mengatur dan mencipta alam semesta terkecuali Allah
– Mengimani pada uluhiah Allah bahwa tak ada sesembahan yang berhak untuk disembah kecuali Allah dan meniadakan segala sesembahan selain Allah Swt.
– Mengimani untuk semua dan segala sifat Allah yang Allah sudah tetapkan untuk diriNya dan yang Nabi Muhammad Saw yang telah tetapkan untuk Allah, serta selalu menjauhi Tahrif, takyif, tamtsil dan tathil.
– Mengimani bahwa adanya Allah Swt
– Mengimani rububiah Allah, bahwa tidak ada lagi yang menguasai, mengatur dan mencipta alam semesta terkecuali Allah
– Mengimani pada uluhiah Allah bahwa tak ada sesembahan yang berhak untuk disembah kecuali Allah dan meniadakan segala sesembahan selain Allah Swt.
– Mengimani untuk semua dan segala sifat Allah yang Allah sudah tetapkan untuk diriNya dan yang Nabi Muhammad Saw yang telah tetapkan untuk Allah, serta selalu menjauhi Tahrif, takyif, tamtsil dan tathil.
2. Rukun
Iman kepada Para Malaikat
Adapun
maksud kita wajib untuk membenarkan bahwa para malaikat tersebut memiliki wujudnya
dimana Allah Swt telah menciptakan mereka dari cahayaNya. Mereka ialah makhluk
dan hamba Allah yang senantiasa patuh dan beribadah selalu kepadaNya. Allah Swt
berfirman:
Artinya:
“Dan malaikkat-malaikat yang di sisiNya, merekka tiada memiliki rasa anggkuh
untuk menyyembahNya dan tiada (pula) merassa letih. mereka sellalu bertasbih
malam dan sianng tiada henti-henttinya” (QS. Al-Anbiya: 19-20)
Kita mesti
wajib untuk mengimani secara rinci pada setiap malaikat yang kita sudah ketahui
namanya semisal Jibril, Mikail dan Israil. Adapun yang kita tak ketahui namanya
maka kita mengimani hal tersebut secara universal. Diantara bentuk beriman
kepada mereka ialah mengimani pada setiap tugas dan amalan mereka yang tersebut
didalam Al-Quran dan hadits yang sahih, semisal mengantar wahyu, mencabut
nyawa, menurunkan hujan dan seterusnya.
3. Rukun
Iman kepada kitab-kitab Allah
Kita mengimani bahwa untuk seluruh kitab Allah ialah kalamNya, dan kalamullah itu bukanlah makhluk karena kalam merupakan sebuah sifat Allah dan sifat Allah itu bukanlah makhluk
Kita mengimani bahwa untuk seluruh kitab Allah ialah kalamNya, dan kalamullah itu bukanlah makhluk karena kalam merupakan sebuah sifat Allah dan sifat Allah itu bukanlah makhluk
Kita juga
mesti wajib dalam mengimani secara merinci untuk semua kita yang namanya telah
disebutkan didalam Al-Quran semisal taurat, injil, zabur, suhhuf ibrahim dan
suhhuf musa. Sementara yang tak kita ketahui tentang namanya maka kita hanya
bisa mengimaninya secara universal bahwa Allaw Swt memiliki kitab lain selain
daripada apa yang telah diterangkan untuk kita. Secara khusus mengenai Al-Quran
bahwa kita hanya wajib mengimani bahwa dia adalah penghapus hukum dari semua
kitab suci yang telah turun sebelumnya. Sesuai dengan firman Allah Swt:
Artinya:
“Dan kammi telah turrunkan kepadamu Al-Quran dengan memmbawa kebennaran,
membenarkan apa yangg sebbelumnya, yaitu kitab-kittab (yang diturunkan
sebellumnya) dan batu ujian terhaddap kitab-kittab yang lain itu.”(QS
Al-Maidah:48).
4. Rukun
Iman kepada para nabi dan rasul Allah
Penjelasan tentang rukun iman yang keempat yakni mengajak kita untuk mengimani bahwa terdapat diantara laki-laki yang ada dikalangan manusia yang telah dipilih oleh Allah Swt menjadi perantara untuk diri-Nya bersama dengan para makhluknya. Namun, mereka semua tetaplah menjadi manusia biasa yang sama sekali tidak memiliki sifat-sifat dan hak-hak persoalan ketuhanan, karenanya dengan menyembah para nabi dan rasul ialah kebatilan yang nyata.
Penjelasan tentang rukun iman yang keempat yakni mengajak kita untuk mengimani bahwa terdapat diantara laki-laki yang ada dikalangan manusia yang telah dipilih oleh Allah Swt menjadi perantara untuk diri-Nya bersama dengan para makhluknya. Namun, mereka semua tetaplah menjadi manusia biasa yang sama sekali tidak memiliki sifat-sifat dan hak-hak persoalan ketuhanan, karenanya dengan menyembah para nabi dan rasul ialah kebatilan yang nyata.
Wajib
mengimani berarti semua wahyu nabi dan rasul tersebut itu benar dan memiliki
sumber dari Allah Swt. Karena itu siapa saja yang telah mendustakan kenabian
dari salah seorang diantara mereka maka itu sama saja bahwa dia telah
mendustakan semua nabi yang lainnya. Karena itu Allah Swt mengafirkan nasrani
dan yahudi tatkala tidak mengimani kepada Nabi Muhammad aw dan Allah telah
mendustakan untuk keimanan mereka kepada Isa dan Musa As, karena itu mereka tak
beriman kepada Nabi Muhammad Saw.
Juga wajib
untuk mengimani secara merinci pada setiap nabi dan rasul yang telah kita
ketahui namanya. Sementara yang tak kita ketahui mengenai namanya maka kita
mesti wajib untuk mengimaninya secara menyeluruh. Seperti Firman Allah Swt:
“Sesungguhnya
Kami tellah memberikan wahhyu kepadammu sebagaimanna Kami tellah memberikan
wahhyu kepada Nuh dan Nabi-nabi yang kemmudiannya, dan Kami tellah memberikan
wahyu (pula) kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Ya’qub dan anakk cuccunya, ‘Isa,
Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami berrikan Zabur kepadda Daud” (QS. An
Nisa:163).
“Dan
sesunggguhnya telah Kammi utus bebberapa orang rasul sebbelum kamu, di antara
mereka ada yangg kami cerritakan kepadammu dan diantara mereka ada (pula) yang
tiddak Kami Ceritakan kepaddamu” (QS. Mu’min:78).
5. Rukun
Iman kepada Hari Akhir
Disebut
sebagai hari akhir sebab dia merupakan hari terakhir untuk dunia ini, tak ada
lagi untuk hari esok. Hari akhir merupakan hari dimana Allah Swt telah
mewakafkan untuk seluruh makhluk yang masih hidup pada saat itu kecuali yang
Allah perkecuallikan, lalu mereka semua akan dibangkitkan untuk bisa
mempertanggungjawabkan amalan yang telah mereka lakukan. Allah Swt berfirman:
” sebaggaimanan Kami telah memmulai penciptaan perrtama begitulah Kammi akan mengulangiinya, janji dari Kami, sesunggguhnya Kami passti akan melakukannnya.” (QS. Al-Anbiya: 104)
” sebaggaimanan Kami telah memmulai penciptaan perrtama begitulah Kammi akan mengulangiinya, janji dari Kami, sesunggguhnya Kami passti akan melakukannnya.” (QS. Al-Anbiya: 104)
“Maka demmi
Tuhanmu, merreka (pada hakekatnya) tidak berriman hinggga mereka menjjadikan
kamu hakkim terhadap perkara yangg merekka perselisihkkan, kemudian merreka
tidak merassa dalam hati merreka sesuatu keberratan terhaddap putussan yang
kammu berikan, dan merreka menerimma dengan sepennuhnya.” (QS. An Nisa:65)
Inilah makna
dari rukun iman Hari Akhir secara khusus, meskipun pada dasarnya bahwa beriman
kepada hari akhir itu meliputi 3 perkara, dimana siapa saja yang akan
mengingkari salah satunya maka pada hakikatnya dia tak beriman untuk hari
akhir. Ketiga perkara tersebut adalah:
– Mengimani untuk semua yang akan terjadi di Alam Barzakh yakni alam diantara akhirat dan dunia berupa fitnah kubur oleh 2 malaikat, nikkmat kubur untuk yang lulus dari fittnah, dan siksa kubur untuk mereka yang tidak selamat darinya.
– Mengimani untuk tanda-tandda hari kiamat, baik itu tanda-tanda kecil yang jumlahnya pulluhan, maupun tanda-tandda besar yang para ulama sebuttkan jumlahnya ada 10 yang diantaranya: munculnya seorang imam Mahdi, keluarrnya Dajjal, turrunnya nabi Isa As, keluarrnya Ya’juj dan Ma’jun dan seterrusnya sampai terbitnya matahhari dari sebelah barat.
– Mengimani untuk semua yang akan terjadi sesudah kebangkitan. Dan kejadian tersebut jika mau disistematiskan yakni: kebangkitan lalu berdiri di area padang mahsyar, kemudian telaga, lalu di hisab atau (tanya jawab dan pembagian kitab), mizan atau (penimbangan amalan), sirath, nerraka, qintharah atau (titian kedua sesudah shirath), dan yang terakhir ialah surga.
– Mengimani untuk semua yang akan terjadi di Alam Barzakh yakni alam diantara akhirat dan dunia berupa fitnah kubur oleh 2 malaikat, nikkmat kubur untuk yang lulus dari fittnah, dan siksa kubur untuk mereka yang tidak selamat darinya.
– Mengimani untuk tanda-tandda hari kiamat, baik itu tanda-tanda kecil yang jumlahnya pulluhan, maupun tanda-tandda besar yang para ulama sebuttkan jumlahnya ada 10 yang diantaranya: munculnya seorang imam Mahdi, keluarrnya Dajjal, turrunnya nabi Isa As, keluarrnya Ya’juj dan Ma’jun dan seterrusnya sampai terbitnya matahhari dari sebelah barat.
– Mengimani untuk semua yang akan terjadi sesudah kebangkitan. Dan kejadian tersebut jika mau disistematiskan yakni: kebangkitan lalu berdiri di area padang mahsyar, kemudian telaga, lalu di hisab atau (tanya jawab dan pembagian kitab), mizan atau (penimbangan amalan), sirath, nerraka, qintharah atau (titian kedua sesudah shirath), dan yang terakhir ialah surga.
6. Rukun
iman kepada takdir yang baik dan yang buruk.
Maksudnya
disini bahwa kita wajib untuk mengimani bahwa semua yang telah Allah Takdirkan,
apakah itu kejadiannya baik dan buruk maka itu semual bersumber dari Allah Swt.
Beriman kepada takdir Allah tersebut tidak teranggap sempurna sampai mengimani
4 perkara.
– Mengimani bahwa memang Allah Swt mengimani segala sesuatu tentang kejadian, yang buruk maupun baik. Bahwa Allah telah mengetahui segala kejadian yang sudah berlalu, yang sedang terjjadi, dan yang belum terjadi, serta semua kejadian yang tak terjadi seandainya terjjadi maka Allah mengetahuinya bagaimana itu terjadi.
– Mengimani bahwa memang Allah Swt mengimani segala sesuatu tentang kejadian, yang buruk maupun baik. Bahwa Allah telah mengetahui segala kejadian yang sudah berlalu, yang sedang terjjadi, dan yang belum terjadi, serta semua kejadian yang tak terjadi seandainya terjjadi maka Allah mengetahuinya bagaimana itu terjadi.
Allah Swt
berfirman:
“Agar kamu menggetahui bahwasannya Allah Maha Kuasa atas seggala sesuatu, dan sesungguhnnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputti segala sesuatu” (QS Ath-Thalaq:12)
“Agar kamu menggetahui bahwasannya Allah Maha Kuasa atas seggala sesuatu, dan sesungguhnnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputti segala sesuatu” (QS Ath-Thalaq:12)
– Mengimani
bahwa Allah Swt sudah menuliskan segala takdir dari makhluk yang ada di lauh
al-Mahfuzh, 50 ribu tahun sebelumnya dia mencipptakan bumi dan langit.
Dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash Ra dia telah berkata: Sayya pernah mendengar Rasulullah Saw bersabda:
“Allah tellah menuliskan takkdir bagi semua makhhluk 50.000 tahun sebellum Allah menciptakan langgit dan bumi” (HR. Muslim No.4797).
Dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash Ra dia telah berkata: Sayya pernah mendengar Rasulullah Saw bersabda:
“Allah tellah menuliskan takkdir bagi semua makhhluk 50.000 tahun sebellum Allah menciptakan langgit dan bumi” (HR. Muslim No.4797).
– Mengimani
bahwa tak ada satupun gerakkan dan diammnya makhluk dilangit, dibumi dan
diseluruh allam semesta kecuali semuanya baru terjadi sesudah Allah
menghendaki. Tidakklah makhhluk bergerrak kecualli dengan kehenndak dan
izinNya, sebaggaimana tidaklah merreka diam dan tidakk bergerak keccuali
sesudah ada kehenda dan izzin dari-Nya.
Allah Swt
berfirman yang berarti “Dan Kammu tidak dappat menghendakki (mengerjakan
sesuatu) keccuali apabila dikehhendaki Allah, Tuhan semesta allam” (QS.
At-Takwir:29)
– Mengimani bahwa untuk seluruh makhluk itu tanpa terkecuali, zat mereka beserta untuk seluruh sifat dan perbuatan mereka ialah makhluk ciptaan Allah Swt.
– Mengimani bahwa untuk seluruh makhluk itu tanpa terkecuali, zat mereka beserta untuk seluruh sifat dan perbuatan mereka ialah makhluk ciptaan Allah Swt.
Rukun Islam
dan Penjelasannya
1. Rukun
Islam: mengucapkan dua kalimat syahadat
Asyhadu alla
ilaha illallah wa Asyhadu anna Muhammaddarrasuulullahh.
Berarti:
“Aku berssaksi Tiada Tuhan yang berhhak disembah selain Allah dan aku bersakksi
bahwa Muhammad adalah utusan Allah.
dalam
kalimat syahadat ini menggambarkan bahwa kita sebagai hamba mesti melakukan
pernyataan atas dirinya sendiri bahwa secara totalitas kediriannya adalah untuk
Allah dan Rasullnya. Kata “Bersaksi” dalam kalimat tersebut menegaskan bahwa
kita hammba Allah, karena dalam surat Al-Araf 172 (Bukankah aku Tuhanmu, benar
engkau Tuhan kami) menjelaskan bahwa sebelum kita lahir kita sudah melakukan
persaksian kepada Allah Swt, sehingga ketika kita telah lahir maka kita mesti
mengaktualkan kalimat syahadat tersebut. Begitupun dengan kata “Muhammad” itu
menjelaskan bahwa sebenarnya bukan Muhammad secara khusus akan tetapi untuk
seluruh pembawa kebenaran, yang terpuji.
2. Rukun
Iman mendirikan Sholat
Sebagai umat
islam tentunya kita berkewajiban dalam mendirikan Sholat sehari dan semalam
dengan 5 waktu, yang dimulai dari sholat subuh, zuhur, ashar, magrib dan Isya.
Sholat mempunyai kedudukan yang agung didalam Islam, hal tersebut dapat kita
melihat dari adanya keutamaan Sholat tersebut yaitu sebagai berikut:
Dari segi
bahwa Shalat itu berarti “Doa”. Seperti firman Allah Swt
“Dan menddoalah unttuk mereka. Sesungguhnya doa kammu itu (menjadi) ketentteraman jiwa baggi mereka. Dan ALlah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. At Taubah:103).
“Dan menddoalah unttuk mereka. Sesungguhnya doa kammu itu (menjadi) ketentteraman jiwa baggi mereka. Dan ALlah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. At Taubah:103).
– Sholat
ialah kewajiban yang paling utama sesudah dua kalimat syadat dan merupakan
menjadi salah satu rukun Islam.
– Sholat itu merupakan pembeda antara kafir dan muslim
– Sholat itu merupakan pembeda antara kafir dan muslim
Nabi
Muhammad Saw pernah bersabda bahwa “Sesungguhnya battasan antara seseorang
denggan kekafiran dan kesyirrikan adlaah shalat. Barangsiapa menginggalkann
shalat, maka ia kaffir” (HR Muslim).
– Sholat
merupakan tiang agama dan agama seseorrang tidak teggak kecuali dengan
menegakkan sholat.
– Amalan yang perttama kali akan dihissab pada hari kiammat.
– Amalan yang perttama kali akan dihissab pada hari kiammat.
Nabi
Muhammad Saw bersabda bahwa “Sesungguhnya ammal hamba yang pertamma kali akan
dihisab padda hari kiammat adalah shallatnya. Jika shalatnya baik maka dia akan
memperoleh keselamatan dan keberuntungan. Jika sholatnya rusak maka dia akan
merugi dan menyesal. Kalau ada yang kurang darri shala wajibnya, Allah Swt
mengatakan “lihatlah apakah pada hamba tersebut mempunyai amalan shalat
sunnah?’ Maka shalat sunnah tersebut akan bisa menyempurnakan shalat wajibnya
yang kurang. Begitu pun juga amalan lainnya seperti itu.” Dalam riwayat
lainnya, “Kemudian zakat akan (diperhitungkan) seperti itu. Kemudian amalann
lainnya akan dihissab seperti itu pula” (HR Abu Daud)
3. Rukun
Islam : Membayar zakat
Jika kita melihat dari bahasanya, kata “zakat” itu berasal dari “zaka” yang berarti bentuk mashdar yang memiliki arti: Tumbuh, suci, baik, bersih dan berkah. Zakat menurut dari istilah (syara’) berarti sesuatu yang wajib hukumnya diberikan dari sekumpulan harta benda tertentu, menurut ukuran dan sifat tertentu kepada golongan tertentu yang berhak untuk menerimanya dengan memiliki syarat tertentu pula.
Jika kita melihat dari bahasanya, kata “zakat” itu berasal dari “zaka” yang berarti bentuk mashdar yang memiliki arti: Tumbuh, suci, baik, bersih dan berkah. Zakat menurut dari istilah (syara’) berarti sesuatu yang wajib hukumnya diberikan dari sekumpulan harta benda tertentu, menurut ukuran dan sifat tertentu kepada golongan tertentu yang berhak untuk menerimanya dengan memiliki syarat tertentu pula.
Allah sudah
memerintahkan pada setiap muslim yang mempunya harta mencapai nisab untuk bisa
mengeluarkan zakat hartanya pada setiap tahun. Ia berikan kepada yang memang
berhak untuk menerimanya dari golongan fakir serta selain mereka yang zakat
bisa diserahkan untuk mereka sebagaiman firman Allah Swt:
“Dan dirrikanlah shalat, tunaikannlah zakat dan ruku’lah beserrta orang-orang yanng ruku'”(QS. Al Baqarah:43)
“Dan dirrikanlah shalat, tunaikannlah zakat dan ruku’lah beserrta orang-orang yanng ruku'”(QS. Al Baqarah:43)
“Ambillah
Zakat darri sebaggian harrta mereka, dengan zakkat itu kammu membersihhkan dan
mensuccikan mereka”(At. taubah: 103)
4. rukun
islam: Puasa
Menurut dari syariat islam bahwa puasa Ramadhan berarti menahan diri dari minum dan makan serta apa perbuatan yang dapat membatalkan puasa, mulai dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari, dengan syarat tertentu, untuk bisa meningkatkan ketakwaan seorang muslim, Allah Berfirman:
Menurut dari syariat islam bahwa puasa Ramadhan berarti menahan diri dari minum dan makan serta apa perbuatan yang dapat membatalkan puasa, mulai dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari, dengan syarat tertentu, untuk bisa meningkatkan ketakwaan seorang muslim, Allah Berfirman:
“Hai
orrang-orang yang berimann, diwajjibkan atas kammu berpuasa sebaggaimana
diwajibbkan atas orrang-orrang sebelum kammu agar kammu bertakwa” (Surat Al
Baqarah:183).
“Dan makan
minummlah hingga terrang bagimu bennang putih dari bennang hitam, yaitu fajar.
Kemudian sempurnakannlah puasa itu samppai (datang) mallam. (QS Al baqarah:187)
5. Rukun
Islam: Naik Haji bagi orang yang mampu
Untuk rukun islam yang kelima ini, Allah telah mewajibkan pada setiap hambanya untuk bisa berHaji ke Baitullah mekkah sekali dalam seumur hidupnya.
Untuk rukun islam yang kelima ini, Allah telah mewajibkan pada setiap hambanya untuk bisa berHaji ke Baitullah mekkah sekali dalam seumur hidupnya.
Adapun
pengertian Haji ialah berkunjung ke Baitullah Mekkah untuk dapat melakukan
tawaf, Sa’i, wukuff di Araffah dan menjalankan amallan-amalan yang lainnya daam
waktu tertentu untuk bisa memperoleh keridaan Allah Swt.
Adapun untuk
syarat-syarat Haji terdapat 5 perkara yakni Islam, Baligh, berakkal sehat
Merddeka dan Mammpu.
Demikianlah
artikel tentang Rukun Iman dan Rukun Islam serta penjelasannya, semoga artikel
ini dapat memberikan manfaat bagi anda yang sedang mencari cari artikel rukun
iman dan rukun islam.
Rukun iman dan Rukun islam

Rukun iman dan Rukun islam adalah salah satu pilar penting dalam agama islam yang harus dimiliki dan diamalkan sebagai seorang muslim, ibaratkan kita akan membangun rumah jika pondasi nya kurang otomatis ketika terjadi gempa akan rubuh,begitupula apabila kepribadian kita tidak diperkuat dengan rukun iman dan rukun islam apabila terjadi goncangan atau cobaan hidup pastilah akan goyang
أركان الإسلام خمسة : شھادة أن لاإله إلالله وأن محمد رسول لله وإقام الصلاة ،
وإيتاء الزكاة , و صوم رمضان ، وحج البيت من استطاع إليه
. سبيلا
" Adapun rukun - rukun Islam itu ada lima yaitu :
1.bersyahadat bahwa tiada Tuhan kecuali Alloh, dan
2.mendirikan sholat,
3.mengeluarkan zakat,
4.berpuasa di bulan Romadhon dan
5.berhaji ke Baitulloh bagi orang yg mampu akan perjalanannya. "
أركان الإيمان ستة: أن تؤمن بالله ، وملائكته، وكتبه ، وباليوم الآخر ، وبالقدر خيره وشره من الله تعالى
" Adapun rukun iman itu ada 6,
1.beriman kepada Alloh, dan
2.beriman kepada malaikat-malaikatnya Alloh, dan
3.beriman kepada kitab-kitabNya, dan
4.beriman kepada para Rasul Nya,
5.beriman kepada hari akhir, dan
6.beriman kepada takdir baik dan buruk dari Alloh SWT ".
Keutamaan bulan sya’ban
Keutamaan bulan sya’ban
Sahabat, tahukah kita bahwa ada satu bulan yang begitu istimewa namun sering kali kita lupakan? Ya, itulah bulan Sya'ban yang dalam masyarakat Jawa disebut bulan "Ruwah". Bulan Sya'ban ini bulan yang terletak di antara 2 bulan yang juga penuh dengan kemuliaan, yaitu bulan Rajab dan bulan Ramadhan. Bulan Sya'ban seringkali dilupakan manusia karen terletak di antara dua bulan yang mulia yaitu bulan Rajab yang merupakan salah satu dari bulan Haram, dan juga Ramadhan yang merupakan bulan yang tidak perlu kita pertanyakan lagi kemuliaannya.
Sya'ban secara bahasa berasal dari kata Tasya’aba (bahasa Arab) yang berarti berpencar. Pada masa itu, kaum arab biasa pergi memencar, keluar mencari air. Bulan Sya’ban juga berasal dari kata Sya’aba yang berarti merekah atau muncul dari kedalaman karena ia berada di antara dua bulan yang mulia juga. Kalau di dalam masyarakat Jawa (khususnya Jawa Tengah dan Yogyakarta) bulan Sya'ban disebut juga bulan Ruwah yang berasal dari kata Arwah atau Ruh. Demikian ini dikarenakan masyarakat Jawa mempercayai bahwa pada bulan ini ruh atau arwah manusia yang telah meninggal akan "turun" ke dunia untuk menengok anak cucunya dan setelah selesai akan "naik" lagi ke alam akhirat. Proses "turun" dan "naik"nya arwah atau ruh ini terjadi di awal bulan Sya'ban dan di ahir bulan Sya'ban. Untuk itu di masyarakat jawa dikenal dengan adanya tradisi "Pudunan" (dari kata "mudun" yang artinya turun) di awal bulan Sya'ban dan juga tradisi "Punggahan" (dari kata "munggah" yang artinya naik) di akhir bulan Sya'ban.
Terlepas dari itu semua, akan tetapi ada hal yang lebih penting ntuk kita cermati dan kita perhatikan demi meraih kemanfaatan dari kemuliaan-kemuliaan yang dijanjikan Allah Swt kepada kita di bulan ini.
Apa saja kemuliaan-kemuliaan itu?
Puasa Sunnah di Bulan Sya'ban
Sahabat, Rasulullah Saw biasa memperbanyak puasa sunnah di bulan ini. Beliau hampir penuh puasa di bulan ini. Beliau hanya berbuka atau tidak berpuasa pada beberapa hari saja.
Dari Aisyah r.a beliau mengatakan, "Terkadang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam puasa beberapa hari sampai kami katakan, 'Beliau tidak pernah tidak puasa, dan terkadang beliau tidak puasa terus, hingga kami katakan: Beliau tidak melakukan puasa. Dan saya tidak pernah melihat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berpuasa sebulan penuh kecuali di bulan Ramadhan, saya juga tidak melihat beliau berpuasa yang lebih sering ketika di bulan Sya'ban." (HR. Al Bukhari dan Muslim)
Aisyah mengatakan,
"Belum pernah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa satu bulan yang lebih banyak dari pada puasa bulan Sya’ban. Terkadang hampir beliau berpuasa Sya’ban sebulan penuh." (H.R. Al Bukhari dan Msulim)
Aisyah mengatakan,
"Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan perhatian terhadap hilal bulan Sya'ban, tidak sebagaimana perhatian beliau terhadap bulan-bulan yang lain. Kemudian beliau berpuasa ketika melihat hilal Ramadhan. Jika hilal tidak kelihatan, beliau genapkan Sya’ban sampai 30 hari." (HR. Ahmad, Abu Daud, An Nasa’i dan sanad-nya disahihkan Syaikh Syu'aib Al Arnauth).
Ummu Salamah radhiallahu 'anha mengatakan,
أَنَّهُ لَمْ يَكُنْ يَصُومُ مِنَ السَّنَةِ شَهْرًا تَامًّا إِلاَّ شَعْبَانَ يَصِلُهُ بِرَمَضَانَ
"Bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam belum pernah puasa satu bulan penuh selain Sya’ban, kemudian beliau sambung dengan Ramadhan." (HR. An Nasa'i dan disahihkan Al Albani)
Hadis-hadis di atas merupakan dalil keutamaan memperbanyak puasa di bulan Sya’ban, melebihi puasa di bulan lainnya.
Puasa Sya'ban juga dilaksanakan oleh Rasulullah paling banyak diantara puasa sunah yang lain, karena berpuasa di bulan ini ibarat ibadah rawatib yang dibarengi dengan ibadah wajib yang sedang dikerjakan.
Niat Puasa Sya'ban
نويت صوم شهر شعبان سنة لله تعالى
Lafal huruf: Nawaitu sauma syahri syahban lillahi ta'ala, Amin.
Artinya : Saya niat puasa bulan sya’ban, sunnah karena Allah ta’ala
Keistimewaan Sya’ban
Ternyata, puasa beliau ini mengandung hikmah yang luar biasa. Dari sisi fisik, ia merupakan persiapan bagi kita untuk menghadapi puasa di bulan Ramadhan yang sebulan penuh. Dari sisi spiritual, hadits berikut ini menyatakan rahasia hikmah di balik memperbanyak puasa di bulan Sya’ban.
Dari Usamah bin Zaid, dia berkata, saya bertanya: "Wahai Rasulullah, aku tidak melihat engkau (sering) berpuasa dalam satu bulan seperti engkau berpuasa di bulan Sya’ban?" Beliau bersabda: "Itu adalah bulan yang kebanyakan orang melalaikannya yaitu antara Rajab dan Ramadhan. Yaitu bulan yang di dalamnya diangkat amalan-amalan kepada Allah, Tuhan seluruh alam. Maka aku ingin [ketika] amalanku diangkat, aku dalam keadaan berpuasa." (Dinyatakan hasan oleh Al Albani dalam Shahih An Nasa’i, No. 2221; dishahihkan oleh Ibnu Huzaimah).
Betapa tergambar kedekatan Rasulullah akan pengawasan Allah dan keinginan beliau untuk selalu memberikan yang terbaik sebagai seorang hamba kepada Rajanya. Beliau ingin mengantarkan amal-amal kebaikan yang sedang menuju keharibaan Allah dalam kondisi terbaik, terhindar dari maksiat dan dosa. Dan hal ini dapat dicapai dengan puasa.
Hikmah Puasa di Bulan Sya’ban
Ustadz Ammi Nur Baits dalam konsultasi syariahnya menyatakan bahwa ulama berselisih pendapat tentang hikmah dianjurkannya memperbanyak puasa di bulan Sya’ban, mengingat adanya banyak riwayat tentang puasa ini.
Pendapat yang paling kuat adalah keterangan yang sesuai dengan hadis dari Usamah bin Zaid, beliau bertanya: "Wahai Rasulullah, saya belum pernah melihat Anda berpuasa dalam satu bulan sebagaimana Anda berpuasa di bulan Sya'ban. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Ini adalah bulan yang sering dilalaikan banyak orang, bulan antara Rajab dan Ramadhan. Ini adalah bulan dimana amal-amal diangkat menuju Rab semesta alam. Dan saya ingin ketika amal saya diangkat, saya dalam kondisi berpuasa." (HR. An Nasa’i, Ahmad, dan sanadnya dihasankan Syaikh Al Albani)
Apa FAEDAH dari hadits di atas ....???
1. Bulan Sya'ban adalah bulan Mulia.
2. Pads bulan Sya'ban, amalan-amalan hamba DIANGKAT kepada Allah, bukan BUKU CATATAN AMAL DITUTUP.
3. Perbanyak PUASA SUNNAH pada bulan Sya'ban, tanpa penentuan tanggalnya.
Memperbanyak Ibadah di Malam Nisfu Sya’ban
Kemudian beliau menjelaskan tentang para ulama yang berselisih pendapat tentang status keutamaan malam Nisfu Sya’ban. Setidaknya ada dua pendapat yang saling bertolak belakang dalam masalah ini. Berikut keterangannya:
Pendapat pertama, tidak ada keuatamaan khusus untuk malam Nisfu Sya'ban. Statusnya sama dengan malam-malam biasa lainnya. Mereka menyatakan bahwa semua dalil yang menyebutkan keutamaan malam Nisfu Sya'ban adalah hadis lemah. Al Hafidz Abu Syamah mengatakan: Al Hafidz Abul Khithab bin Dihyah (dalam kitabnya tentang bulan Sya’ban) mengatakan, "Para ulama ahli hadis dan kritik perawi mengatakan, 'Tidak terdapat satupun hadis shahih yang menyebutkan keutamaan malam Nisfu Sya’ban'." (Al Ba’its ‘ala Inkaril Bida’, Hal. 33).
Syaikh Abdul Aziz bin Baz juga mengingkari adanya keutamaan bulan Sya'ban dan Nisfu Sya'ban. Beliau mengatakan, "Terdapat beberapa hadis dhaif tentang keutamaan malam nisfu Sya'ban, yang tidak boleh dijadikan landasan. Adapun hadis yang menyebutkan keutamaan shalat di malam Nisfu Sya'ban, semuanya statusnya palsu, sebagaimana keterangan para ulama (pakar hadis)." (At Tahdzir min Al Bida’, Hal. 11)
Pendapat kedua, terdapat keutamaan khusus untuk malam Nisfu Sya'ban. Pendapat ini berdasarkan hadis shahih dari Abu Musa Al Asy'ari radhiallahu 'anhu, dimana Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya Allah melihat pada malam pertengahan Sya'ban. Maka Dia mengampuni semua makhluknya, kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan." (HR. Ibn Majah, At Thabrani, dan dishahihkan Al Albani).
Para Ulama berbeda pendapat. Sebagian mereka mendha’ifkannya (melemahkannya) dan sebagain yang lain menshahihkannya. Dan sekiranya hadits tersebut shahih, maka yang dimaksud dengan keutamaan tersebut adalah tidak mengamalkan dengan ritual ibadah tertentu atau dengan cara khusus.
Setelah menyebutkan beberapa waktu yang utama, Syaikhul Islam mengatakan, "…pendapat yang dipegangi mayoritas ulama dan kebanyakan ulama dalam Madzhab Hambali adalah meyakini adanya keutamaan malam Nisfu Sya'ban. Ini juga sesuai keterangan Imam Ahmad. Mengingat adanya banyak hadis yang terkait masalah ini, serta dibenarkan oleh berbagai riwayat dari para sahabat dan tabi'in…" (Majmu’ Fatawa, 23:123)
Ibn Rajab mengatakan, "Terkait malam Nisfu Sya'ban, dulu para tabi'in penduduk Syam, seperti Khalid bin Ma'dan, Mak-hul, Luqman bin Amir, dan beberapa tabi'in lainnya, mereka memuliakannya dan bersungguh-sungguh dalam beribadah di malam itu…" (Lathaiful Ma’arif, Hal. 247).
Menjelang Malam Nisyfu Sya'ban, yang diperkirakan jatuh pada hari AHAD 23 JUNI 2013 ,banyak skali SMS/pesan singkat yg mengutip beberapa hadits berikut :
HADITS PERTAMA:
Doa Malaikat Jibril menjelang Nisfu Sya'ban : “Yaa ALLAH abaikanLah puasa umat Nabi Muhammad, apabila sebelum Ramadhan dia belum:
1.Memohon maaf kpd kedua orang tua jika keduanya masih hidup ..
2.Bermaafan antara suami-istri .
3.Bermaafan dgn keluarga, kerabat serta orang sekitar”.
Maka saat itu doa Malaikat Jibril diaminkan oleh Rasulullah sampai 3x, Amin..amin..amin..
HADITS KEDUA:
Rasulullah bersabda : "Barang siapa yang mengingatkan saudaranya tentang KEUTAMAAN Malam Nisfu Sya'ban kepada saudaranya, maka Allah MENGHARAMKAN SIKSA API NERAKA baginya"
Maka tahukah kita apa kedudukan ke-2 hadits di atas dlm KEABSAHANNYA ???
Ketahuilah,,,bahwa Kedudukan HADITS PERTAMA adalah TIDAK ADA ASAL USULNYA.
Dan kedudukan HADITS KEDUA adalah PALSU.
(Silakan merujuk kepada kitab "Silsilah al-Ahadits adh-Dha'ifah wal Maudhu'ah" karya Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani -rahimahullah-).
Padahal Rasulullah bersabda : "Barang Siapa yg membuat-buat perkataan atas namaku, (yang sama sekali) TIDAK PERNAH AKU UCAPKAN, maka hendaklah ia menyiapkan TEMPAT DUDUKNYA DI NERAKA" (HR... Ibnu Majah dan Ahmad bin Hambal)
Dan perlu Sahabat ketahui, Pada hari itu dan malam sebelumnya (Pertengahan Sya’ban), mayoritas kaum Muslimin akan merayakannya dengan ibadah - ibadah tertentu, biasanya di isi dengan pembacaan Surat Yasin tiga kali, berjamaah dengan niat semoga diberi umur panjang, diberi rizki yang banyak dan barokah, serta ditetapkan imannya . Dan ada pula shalat yang mereka namakan dengan shalat 100 raka’at, shaum, bersedekah, dzikir dan ritual - ritual ibadah lainnya. Untuk selanjutnya tergantung niatnya masing-masing.
Setelah itu, biasanya di lanjutkan pada shalat Awwabin atau shalat tasbih. kemudian dilanjutkan dengan ceramah agama atau ada juga yang langsung makan-makan. Dan ternyata Nisfu Sya'ban tidak hanya dilakukan di Indonesia saja
Padahal perayaan dan ritual - ritual ibadah tersebut tidak ada satu pun dalil shahih yang dapat dijadikan sandaran yang menunjukkan disyari'atkannya ibadah - ibadah khusus tersebut.
Diantara riwayat yang dijadikan dalil adalah,
إذا كان ليلة النصف من شعبان فقوموا ليلتها و صوموا يومها
“Bila datang malam nishfu Sya’ban maka lakukanlah shalat Malam pada malam harinya & shaumlah pada siang harinya..".
Hadits ini derajatnya maudhu (palsu). Demikian juga hadits - hadits yang lainnya.
Allah Ta’ala berfirman: “Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu dan telah Ku cukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah Ku ridhai Islam itu sebagai agama bagimu.” (QS.Al-Ma’idah: 3). Lihat juga QS. An-Nisa:59-65 dan QS.Ali Imran:31.
Dan ayat ayat lain serta hadits hadits yang senada maknanya, seperti sabda Nabi, “Barangsiapa mengada adakan (sesuatu hal baru) dalam urusan (agama) kami, yang bukan merupakan ajarannya, maka akan tertolak.” (HR.al-Bukhari)
Ada bebebarap hadits Hasan dan Shahih yang berbicara seputar keutamaan malam Nishfu Sya’ban ini. Hadits-hadits dimaksud adalah:
Hadits 1
عن أبي موسى عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ((إن الله ليطلع ليلة النصف من شعبان فيغفر لجميع خلقه, إلا لمشرك أو مشاحن)) [رواه ابن ماجه وحسنه الشيخ الألبانى فى صحيح ابن ماجه (1140)]
Artinya: “Dari Abu Musa, Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Allah muncul (ke dunia) pada malam Nishfu Sya’ban dan mengampuni seluruh makhluk-Nya, kecuali orang musyrik dan orang yang dengki dan iri kepada sesama muslim.” (HR. Ibn Majah, dan Syaikh Albani menilainya sebagai hadits Hasan sebagaimana disebutkan dalam bukunya Shahih Ibn Majah no hadits 1140).
Adapula
“Sesungguhnya Allah Azza Wajalla turun ke langit dunia pada malam Nishfu Sya’ban dan mengampuni (dosa) yang banyaknya melebihi jumlah bulu domba Bani Kalb.” (HR Turmudzi, Ahmad dan Ibnu Majah)
Hadits 2
عن عبد الله بن عمرو عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ((إن الله ليطلع إلى خلقه ليلة النصف من شعبان فيغفر لعباده إلا اثنين: مشاحن, أو قاتل نفس)) [رواه أحمد وابن حبان فى صحيحه]
Artinya: “Dari Abdullah bin Amir, Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Allah akan menemui makhluk-Nya pada malam Nishfu Sya’ban, dan Dia mengampuni dosa hamba-hambanya kecuali dua kelompok yaitu orang yang menyimpan dengki atau iri dalam hatinya kepada sesama muslim dan orang yang melakukan bunuh diri.” (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban sebagaimana ditulisnya dalam buku Shahihnya).
Namun, Syaikh Syu’aib al-Arnauth menilai hadits tersebut hadits yang lemah, karena dalam sanadnya ada dua rawi yang bernama Ibn Luhai’ah dan Huyay bin Abdullah yang dinilainya sebagai rawi yang lemah. Namun demikian, ia kemudian mengatakan bahwa meskipun dalam sanadnya lemah, akan tetapi hadits tersebut dapat dikategorikan sebagai hadits Shahih karena banyak dikuatkan oleh hadits-hadits lainnya (Shahih bi Syawahidih).
Hadits 3
عن عثمان بن أبي العاص مرفوعا قال, قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((إذا كان ليلة النصف من شعبان نادى مناد: هل من مستغفر فأغفر له؟ هل من سائل فأعطيه؟ فلا يسأل أحد شيئا إلا أعطيه, إلا زانية بفرجها أو مشركا)) [رواه البيهقى]
Artinya: “Dari Utsman bin Abil Ash, Rasulullah saw bersabda: “Apabila datang malam Nishfu Sya’ban, Allah berfirman: “Apakah ada orang yang memohon ampun dan Aku akan mengampuninya? Apakah ada yang meminta dan Aku akan memberinya? Tidak ada seseorang pun yang meminta sesuatu kecuali Aku akan memberinya, kecuali wanita pezina atau orang musyrik.” (HR. Baihaki).
Dan ada juga
Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib KW bahwa Rasulullah SAW bersabda,
“Jika malam Nishfu Sya’ban tiba, maka salatlah di malam hari, dan berpuasalah di siang harinya, karena sesungguhnya pada malam itu, setelah matahari terbenam, Allah turun ke langit dunia dan berkata, ‘Adakah yang beristighfar kepada Ku, lalu Aku mengampuninya, Adakah yang memohon rezeki, lalu Aku memberinya rezeki , adakah yang tertimpa bala’, lalu Aku menyelamatkannya, adakah yang begini (2x), demikian seterusnya hingga terbitnya fajar.” (HR Ibnu Majah).
Tiga hadits di atas menunjukkan adanya dalil keistimewaan malam nishfu sya’ban. Dari hadits-hadits tersebut kita dapat pula mengambil kesimpulan bahwa Allah sangat membenci orang-orang yang musyrik, pezina, bunuh diri (pembunuh), dan pendengki. Allah tidak akan memberi ampunan atau mengabulkan permohonan pada malam itu kepada golongan ini.
Tapi kalau untuk hadist ini sepertinya Lemah
Nabi Muhammad Saw bersabda: Siapa yang berpuasa pada hari Nishfu Sya’ban, ia memperoleh pahala seperti berpuasa dua tahun: tahun yang lalu dan tahun yang akan datang (Kanz al-‘Ummal 14:178, h. 38293). ( Filsafat Kompasiana)
Ahirnya...
Sahabat, demikian itulah sedikit dari pembahasan yang bisa saya sampaikan, apapun itu - terlepas dari berbagai perbedaan pendapat yang terjadi di kalangan para ulama' kita - kita tetap harus saling menghargai tanpa harus saling menyalahkan dan mengkafirkan. Hendaklah setiap kita berhati - hati dalam beribadah. Tidak mengamalkannya kecuali berdasarkan dalil yang shahih.
Namun, untuk kelanjutannya Allah Maha Segalanya. Meminta dan memohonlah hanya pada-Nya. Semoga kita bisa mengambil hikmah dari intisari bacaan ini. Harapannya dengan demikian kita akan semakin memahami arti kemuliaan bulan Sya'ban ini yang salah satunya adalah sebagai "jembatan" bagi kita untuk menuju ke bulan Ramadhan. Atau juga bisa dimaknai sebagai bulan "pamanasan" untuk kita sebelum kita menjalani serangkaian kewajiban dan ritual ibadah kita di bulan Ramadhan.
Untuk itu tepatlah kiranya jika di bulan Sya'ban ini kita perbanyak ibadah kita serta kita intensifkan muhasabbah (instropeksi) diri kita. Menghitung dan mereview kembali apa-apa saja yang telah kita kerjakan di waktu-waktu sebelumnya. Sehingga dengan demikian kita akan mengetahui telah sampai di mana sebenarnya "posisi" kita saat ini ketika kita berniat berjalan menuju kepada-Nya. Dan harapan yang lain lagi, dengan mempersiapkan diri sebaik-baiknya di bulan Sya'ban ini, kita akan bisa menjalankan ibadah-ibadah kita di bulan Ramadhan nanti dengan lebih ikhlas dan khusyuk, sehingga tujuan Allah swt menjadikan bulan Ramadhan untuk kita agar bisa menjadi hamba yang bertakwa (la'allakum tattaquun) bisa terlaksana. Sesungguhnya kita tiada daya dan upaya. Selamat menyambut bulan suci Ramadhan. Semoga bermanfaat.
Aamiin Ya Robbal'alamiin.
Allahu'alam bisshowab...
Barokallahufikum.
Penjelasan Istihadha
Istihadho
Dari sebagian wanita muslim masih banyak yang tidak mengenal darah istihadho. Dalam perhitung masa suci apabila haid datang sebelum masa suci berarhir maka daat di simpulkan bahwa darah yang keluar dari farji itu bukan darah haid melainkan darah istihadhah ( Darah Penyakit ) itu hanya perumpaan kecil yang sering kita temui masih banyak yang lainnya lagi.Maka saya akan memaparkan sebagai kecil dari definisi ishadhah
Menurut kitab safina Darah istihadhah ialah darah penyakit yang keluar dari faraj perempuan. Darah ini bukanlah merupakan darah haid atau darah nifas. Ia adalah sejenis darah penyakit. Seseorang perempuan yang ketika didatangi darah istihadhah, wajib berpuasa, bersembahyang dan boleh mengerjakan ibadah lain sama seperti orang lain yang tidak didatangi haid dan nifas.” Rumusan yang dapat dibuat berdasarkan pendapat di atas, istihadah merupakan darah yang keluar bukan pada masa haid dan nifas. Darah istihadah disifatkan sebagai darah penyakit. Untuk mengetahui darah istihadah ialah darah yang keluar dari rahim perempuan yang melebihi (15 hari dan malamnya) atau kurang (24 jam) dari tempoh haid dan nifas.
Dari Aisyah ra berkata : “Fatimah Binti Abi Hubaisy telah datang menemui Nabi SAW dan berkata : Wahai Rasulullah, aku telah beristihadhah, oleh itu aku tidak suci, maka adakah aku perlu meninggalkan solat? Sabda Rasulullah SAW : Tidak, itu hanyalah darah penyakit dan bukan darah haid. Ketika kedatangan haid hendaklah engkau meninggalkan solat, dan apabila kadarnya telah berlalu, maka hendaklah engkau membasuh darah yang berada pada diri engkau dan hendaklah engkau bersolat.” (Riwayat Al-Bukhari)
Darah ini membatalkan wuduk tetapi tidak mewajibkan wanita tersebut mandi hadas dan tidak wajib meninggalkan solat serta puasa. Oleh itu wanita yang keluar darah tersebut hendaklah membasuhnya, mengikat atau membalut tempat keluarnya dan hendaklah berwuduk setiap kali hendak solat fardhu. Faktor Istihadhah Wanita yang mengeluarkan darah istihadhah adalah disebabkan kestabilan kesihatan tubuh badan yang terganggu atau stamina tubuh tidak terjamin yang disebabkan oleh kerosakkan organ-organ atau kelenjar-kelenjar yang berada dipersekitaran rahimnya. Kadang kala boleh juga disebabkan oleh gangguan emosi wanita tersebut.
Darah istihadhah ini mengalir secara berterusan dan kadang kala ia berlarutan sehingga beberapa minggu. Jika keadaan sebegini berterusan, maka lebih baik mendapatkan rawatan dan nasihat doktor dengan segera untuk mengetahui apa puncanya. Ciri-ciri Istihadhah Wanita umur sembilan tahun yang mengeluarkan darah. Wanita yang keluar darah melebihi batasan haid sebanyak 15 hari dan malamnya. Atau wanita yang mengeluarkan darah kurang dari 24 jam atau satu hari dan malamnya. Wanita yang mengeluarkan darah melebihi batasan masa nifas sebanyak 60 hari dan malamnya. Wanita didatangi darah sebanyak dua kali yang diselangi dengan masa suci kurang dari 15 hari dan malamnya. Hukum Istihadhah Tidak wajib mandi ketika ingin mengerjakan solat wajib ataupun sunat pada bila-bila masa. Kecuali satu kali ketika haidnya sudah berhenti. Orang Istihadhah wajib berwuduk setiap kali hendak mengerjakan solat. Hendaklah ia membasuh kemaluannya sebelum berwuduk dan kemudian ia menutup kemaluannya dengan sehelai kain atau kapas untuk menahan atau mengurangi najis daripada terus keluar. Jika cara ini tidak berjaya menahan darah istihadhah, maka hendaklah ia menyumbat atau mengikat kemaluannya supaya tidak bocor. Tidak menjadi halangan bagi suami yang ingin menjimak isterinya ketika istihadhah. Ini merupakan pendapat mejoriti para ulamak, kerana ia tidak mempunyai satu dalilpun yang mengharamkannya. Hukum wanita istihadhah sama sepertimana wanita yang suci daripada haid dan nifas. wanita istihadhah boleh mengerjakan solat, puasa, tawaf, membaca Al-Quran, menyertuh Al-Quran dan sebagainya.
Subscribe to:
Posts (Atom)
